MAKALAH RAGAM BAHASA INDONESIA

DISUSUN OLEH : AKBAR (20113542) 3KB01
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah penyusun ucapkan puji
syukur kepada Allah SWT. Karena berkahan dan ridho-Nya, penyusun bisa
menyelesaikan makalah tepat pada waktunya.
Makalah yang berjudul Bahasa Indonesia,
kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Tak lupa juga nada terimakasih penyusun
ucapkan kepada berbagai pihak sengja atau tidak telah ikut berperan dalam
penyusunan makalah ini. Pennyusun ucapkan terimakasih yang sebesarnya kepada:
1. Bapak Ahmad Yazid Lubis selaku dosen mata kuliah Bahasa
Indonesia, yang senantiasa membimbing kami para mahasiswanya
2. Para bloger yang tak henti-hentinya berbagi ilmu
dengan cara memposting artikel-artikel ke situs mereka
3. Teman-teman sekelas yang terkadang juga sering
mengajak untuk berdiskusi
Seperti halnya manusia, makalah kami ini
juga mempunyai banyak kekurangan, olehnya itu kritik dan saran yang bersifat
membangun dari berbagai fihak yang telah membaca demi perbaikan selanjutnya.
Akhir kata, penyusun ucapkan Assalamu Alaikum
warahmatullahi wabarakatu, wa syukron
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI .........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................
LATAR BELAKANG ..........................................................................................
RUMUSAN MASALAH ......................................................................................
TUJUAN PEMBAHASAN ..................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................
Ragam Bahasa Indonesia.......................................................................................
Bahasa Indonesia Baku..........................................................................................
Penerapan Kaidah Ejaan........................................................................................
Penulisan Unsur Serapan dan Pemakaian Tanda Baca..........................................
Kalimat dalam Bahasa Indonesia ...........................................................................
BAB III PENUTUP ...............................................................................................
KESIMPULAN ......................................................................................................
KRITIK DAN SARAN ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Bahasa adalah alat komunikasi paling
sederhana yang biasa di pegunakan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun
demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika sedang menggunakan
bahasa, diantaranya penekanan atau tones, dalam bahasa tulis biasanya di tandai
dengan tanda koma (,). Salah penempatan tones akan meberikan salah persepsi
terhadap lawan bicara. Bukan hanya itu, perbedaan latar belakang kebudayaan
juga terkadang memberikan penangjkapan yang bebeda pula.
Dari beberapa contoh diatas dalam rangka
menyatukan perbedaan maka lahirlah bentuk bahasa Indonesia ragam baku dan non
baku.
Bahasa baku umumnya ditegakkan melalui
kamus (ejaan dan kosakata), tata bahas perbedaan latar a, pelafalan, lembaga
bahasa, status hukum, serta penggunaan di (pemerintah, sekolah, dll )Bahasa
baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang diterima untuk dipakai dalam
situasi resmi, seperti dalam perundang-undangan, surat-menyurat, dan rapat
resmi. Bahasa baku terutama digunakan sebagai bahasa persatuan dalam masyarakat
bahasa yang mempunyai banyak bahasa.).
Bahasa baku tidak dapat dipakai untuk
segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis,
pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar
keempat penggunaan itu, dipakai ragam tak baku.
Namun, mungkin karena tidak terbiasa
atau tidak tahu, masih banyak penggunaan kata yang tidak baku dan dibiarkan
oleh lembaga bahasa. Parahnya lagi, penggunaan kata tidak baku itu kerap muncul
di iklan-iklan yang dipublikasikan secara nasional lewat berbagai media,
seperti Jaringan Handal (seharusnya/yang baku: Jaringan Andal), juga kerap
diucapkan oleh penyiar televisi nasional yang tentu saja dianggap benar oleh
pemirsanya, seperti kata resiko (kata baku: risiko) dan praktek (kata baku:
praktik).
Mengingat di sekitar kita ini, masih
banyak yang menganggap jika menulis, membaca dan mengucap bahasa Indonesia
harus dengan kalimat baku, baik dan benar.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Pengertian ragam bahasa indonesia
2. Perbedaan bahasa baku dan non baku
3. Apa problematika yang ada dalam penerapan ejaan
4. Sebutkan unsur serapan dan tanda baca
5. Pengertian dan jenis kalimat bahasa indonesia
C. TUJUAN
PEMBAHASAN
1.Mengidentifikasi ragam bahasa indonesia
2.Membedakan bahasa baku dan non baku
3.Mengetahui problematika dalam penerapan ejaan
4.Mengetahui unsur serapan san tanda baca
5.Mengetahui kalimat Bahasa Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. RAGAM
BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
dipakai dalam berbagai keperluan tentu tidak sesuai,tetapi akan berbeda-beda
disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Keanekaragaman penggunaan bahasa
Indonesia itulah yang dinamakan ragam bahasa.
Ragam bahasa berdasarkan media/sarana
ada 2, yaitu ragam ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis
A. Ragam Bahasa Lisan dan Ragam Bahasa Tulisan
1. Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat
ucap dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan kita berurusan dengan
tata bahasa, kosakata dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat
memanfaatkan tinggi rendah, suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau
isyarat untuk mengungkapkan ide.
Ciri-ciri ragam bahasa lisan :
a. Memerlukan kehadiran orang lain
b. Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap
c. Terikat ruang dan waktu
d. Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara
2. Ragam Bahasa Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan
dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam
tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain
dengan ragam bahasa tulis, kita tuntut adanya kelengkapan unsur kata seperti
bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran
penggunaan ejaan dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Ciri-ciri ragam bahasa tulis :
a. Tidak memerlukan kehaduran orang lain
b. Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap.
c. Tidak terikat ruang dan waktu
d. Dipengaruhi oleh tanda baca
B. Ragam Sosial dan Fungsional
1. Ragam sosial
Ragam sosial adalah bahasa yang norma dan kaidahnya
didasarkan pada kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial. Dan tidak jarang
ragam sosial ini dihubungkan dengan status sosial masyarakat.
2. Ragam fungsional
Ada 3 ragam bahasa fungsional, yaitu :
a. Ragam Bahasa Bisnis
Ragam bahas bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan
dalam berbisnis
Ciri-ciri ragam bahasa bisnis :
- Menggunakan bahasa yang komunikatif
- Bahasanya cenderung resmi
- Terikat ruang dan waktu
- Membutuhkan adanyaorang lain
b. Ragam Bahasa Hukum
Ragam bahasa hukum adalah bahasa Indonesia yang corak
penggunaan bahasanya khas dalam dunia hokum, mengingat fungsinya mempunyai
karakteristik tersendiri, oleh karena itu bahasa hukum Indonesia haruslah
memenuhi syarat-syarat dan kaudah bahasa indonesia.
Ciri-ciri ragam bahasa hukum :
- Mempunyai gaya bahasa yang khusus
- Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan
ketaksaan
- Objektif dan menekan prasangka pribadi
- Memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat
dan kategori yang diselidiki untuk menghindari kesimpangsiuran
c. Ragam Bahasa Sastra
Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang banyak
menggunakan kalimat tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui
rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra.
Ciri-ciri ragam bahasa sastra :
- Menggunakan kalimat yang tidak efektif
- Menggunakan kata-kata yang tidak baku
- Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi
C. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa
Indonesia yang digunakan sesuaikani dengan situasi pembicaraan (yakni, sesuai
dengan lawan bicara ,tempat pembicaraan, dan ragam pembicaraan) dan sesuai
dengan kaidah yang berlaku dalam Bahasa Indonesia (seperti: sesuai dengan
kaidah ejaan, pungtuasi, istilah, dan tata bahasa).
Menurut Anton M. Moeliono (dalam Majalah Pembinaan
Bahasa Indonesia,1980), berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat
diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang
disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan bahasa Indonesia
yang baik dan benar, sebaliknya, mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus
memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai
situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi
sebagai berikut.
1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat
dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci,putusan
pengadilan, dan upacara.
2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi
resmi seperti pada pidato,rapat resmi
3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam
pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti
dalam percakapan di sekolah dan dipasar.
4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana
tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan
akrab.
5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang
yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim .
Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar :
Misalnya dalam pertanyaan sehari-hari dengan
menggunakan bahasa yang baku
Contoh:
Ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang
murid
Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
Rino : sudah saya kerjakan pak.
Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
Rino : Terima kasih Pak , akan segera saya kumpulkan.
Dalam bahasa terdapat keanearagaman bahasa yang
disebut ragam. Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan
pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan
bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor,
atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi
tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut
menggunakan bahasa baku. Keanekaragaman pemakaian bahasa inilah yang perlu
diperhatikan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena apabila kita
memahami keanekaragaman bahasa, kita dapat menyesuaikan bagaimana cara
berkomunikasi yang baik dengan orang lain diwaktu, tempat, dan acara tertentu.
Contohnya : Pada saat acara formal, penggunaan kata
akudan kamu kurang tepat untuk acara formal karena biasanya penggunaan kata
seperti ini lebih cocok untuk berkomunikasi dengan teman atau kerabat dan
bersifat lebih akrab dan privasi. Namun, kita bisa mengganti kata tersebut
dengan menggunakan kata yag lebih sopan yakni kata saya dan anda.
Ragam bahasa menurut hubungan antarpembiacra dibedakan
menurut akrab tidaknya pembicara
Ragam bahasa resmi
Ragam bahasa akrab
Ragam bahasa agak resmi
Ragam bahasa santai
D. Ragam Bahasa Baku dan Tidak Baku
Bahasa baku adalah bahasa yang strukturnya dilembagakan atau kadang juga disebut bahasa resmi.
Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah
(logat/dialek).
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan
pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di
Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali,
Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda.
Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan b pada
posisiawal saat melafalkan nama-nama kota seperti bogor, Bandung, Banyuwangi,
dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan t seperti pada
kata ithu, kitha, canthik, dll.
Bahasa Indonesia Baku
A. Pembakuan Bahasa Indonesia
Guna mewujudkan bahasa baku yang di maksudkan serta
penyerapannya maka terlebih dahulu dibuat aturan-aturan agar yang dimaksud
tercapai.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam usaha
pembakuan adalah kodifikasi, elaborasi dan implementasi.
1. Kodifikasi
Kodifikasi adalah himpunan hasil pemilihan mana yang
lebih baik dipilih antara satu dengan yang lain
2. Elaborasi
Elaborasi adalah merupakan kelanjutan dari kodifikasi,
pada tahap ini bahasa atau kata yang sudah di pilih, mulai di perkenalkan ke
masyarakat.
3. Implementasi
Adlah proses dimana masyarakat di wajibkan untuk
menerpkan bahasa
Yang sudah melalui proses kodipikasi dan elaborasi.
B. Pengertian Bahasa Indonesia yang Baku dan Tidak
Baku.
1. Bahasa Indonesia Baku
Adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang bentuk
bahasanya telah dikodifikasi, diterima dan difungsikan atau dipakai sebagai
model oleh masyarakat Indonesia secara luas
2. Bahasa Indonesia Nonbaku
Adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang tidak
dikodifikasi, tidak diterima, dan tidak difungsikan sebagai model masyarakat
Indonesia secara luas, tetapi dipakai oleh masyarakat secara khusus.
C. Fungsi Bahasa Indonesia Baku
Bahasa Indonesia baku mempunyai empat fungsi, yaitu
pemersatu, penanda kepribadian, penambah wibawa, kerangka acuan.
1. Bahasa indonesia baku berfungsi pemersatu.
Bahasa Indonesia baku mempersatukan atau menghubungkan
penutur berbagai dialek bahasa itu. Bahasa Indonesia baku mengikat kebinekaan
rumpun dan bahasa yang ada di Indonesia dengan mengatasi batas-batas kedaerahan
2. Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai penanda
kepribadian.
Bahasa Indonesia baku merupakan ciri khas yang
membedakannya dengan bahasa-bahasa lain
3. Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai penambah
wibawa.
Pemilikan bahasa Indoesia baku akan membawa serta atau
pretise. Fungsi pembawa wibawa berkaitan dengan usaha men-capai kesederajatan
dengan peradaban lain yang dikagumi melalui pemero-lehan bahasa baku
4. Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka
acuan.
Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kerangka acuan
bagi pemakainya dengan adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas.
D. Peran Bahasa Indonesia
1. Sebagai media pemersatu bangsa.
2. Sebagai pengembang ilmu pengetahuan
3. Sebagai media alat komunikasi mutlak
4. Sebagai penunjuk kedudukan sosial
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baku dan tidak baku
dalam kehidupan sehari-hari
Bahasa bukan sekedar alat komunikasi, bahasa itu
bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan sekedar berkomunikasi, berbahasa
perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang berlaku.
Ungkapan Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan
benar. Kita tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut.
Permasalahannya adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika
mendengar ungkapan tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang
dijadikan alat ukur (kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang
benar?
Bahasa yang baik
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek
komunikatif bahasa. Hal itu berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran
bahasa kita. Kita harus memperhatikan kepada siapa kita akan menyampaikan
bahasa kita. Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial,
lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak sasaran kita tidak boleh kita
abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak kecil dengan cara kita berbahasa
kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang
berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. Kita
tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan, misalnya, dengan bahasa
yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang dewasa. Selain umur yang
berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh berbeda.
Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek
komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan,
isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah
orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu
pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika
pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan.
Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan
adalah gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan.
Bahasa yang Benar
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni
peraturan bahasa. Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus
diperhatikan, yaitu masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, danejaan.
Pengetahuan atas tata bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan
bahasa lisan dan tulis. Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki
dalam penggunaan bahasa tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, kita
akan mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa.
Kriteria yang digunakan untuk melihat penggunaan
bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini meliputi aspek (1) tata
bunyi (fonologi), (2)tata bahasa (kata dan kalimat), (3) kosa kata (termasuk
istilah), (4), ejaan, dan (5) makna. Pada aspek tata bunyi, misalnya kita telah
menerima bunyi f, v dan z. Oleh karena itu, kata-kata yang benar adalah fajar,
motif, aktif, variabel, vitamin, devaluasi, zakat, izin, bukan pajar, motip,
aktip, pariabel, pitamin, depaluasi, jakat, ijin. Masalah lafal juga termasuk
aspek tata bumi. Pelafalan yang benar adalah kompleks, transmigrasi, ekspor,
bukan komplek, tranmigrasi, ekspot.
Pada aspek tata bahasa, mengenai bentuk kata misalnya,
bentuk yang benar adalah ubah, mencari, terdesak, mengebut, tegakkan, dan
pertanggungjawaban, bukan obah, robah, rubah, nyari, kedesak, ngebut, tegakan
dan pertanggung jawaban. Dari segi kalimat pernyataan di bawah ini tidak benar
karena tidak mengandung subjek. Kalimat mandiri harus mempunyai subjek, predikat
atau dan objek.
Dalam hubungannya dengan peristilahan, istilah dampak
(impact), bandar udara, keluaran (output), dan pajak tanah (land tax) dipilih
sebagai istilah yang benar daripada istilah pengaruh, pelabuhan udara, hasil,
dan pajak bumi. Dari segi ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, sistem,
objek, jadwal, kualitas, dan hierarki. Dari segi maknanya, penggunaan bahasa
yang benar bertalian dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan
tuntutan makna.
Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti
bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat
kita. Penggunaan bahasa yang benar tergambar dalam penggunaan kalimat-kalimat
yang gramatikal, yaitu kalimat-kalimat yang memenuhi kaidah tata bunyi
(fonologi), tata bahasa, kosa kata, istilah, dan ejaan. Penggunaan bahasa yang
baik terlihat dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu
kalimat-kalimat yang dapat menyampaikan pesan/informasi secara tepat.
Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan
kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek
komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu hanus merupakan bahasa
standar. Sebaliknya, penggunaan bahasa standar tidak selalu berarti bahwa
bahasa itu baik dan benar. Sebaiknya, kita menggunakan ragam bahasa yang serasi
dengan sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar.
Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur
yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam
pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah,
kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan
mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.
Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya
membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun
sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
Contoh:
1. Ira mau nulis surat seharusnya Ira mau menulis surat
2. Saya akan ceritakan tentang Kancil seharusnya Saya
akan menceritakan tentang Kancil.
Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur.
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur
terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika
dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan
bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap
tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas
ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan
bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa
baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin
tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat
keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan
E. Penerapan Kaidah Ejaan
A. Pengertian Ejaan
Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan
peraturan bagaimana melambangakan bunyi ujara dan bagaimana antar hubungan
antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).
Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan
kata, dan pemakaian tanda baca.
B. Pembinaan Ejaan Bahasa Indonesia
Ejaan Van Ophuijsen Hingga EYD
1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ditetapkan bahasa melayu dengan hurup
Latin, yang disebut Ejaan van OPhuijsen. Hal yang menonjol dalam ejaan van
Ophuijsen adalah sebagai berikut.
a. Hurup j dipakai untuk menulis kata-kata jang, Pajah,
sajang.
b. Huruf oe dipakai untuk menuliskan kata-kata goeroe,
itoe, oemoer.
c. Tanda diakritik, seperti koma, ain dan tanda trema,
di pakai untuk menuliskan kata-kata mamoer, akal, ta, pa
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 maret 1947 Ejaan Soewandi diresmikan
untuk menggantikan Ejaan van Ophuijsen. Hal-hal yang perlu diketahui sehubung
dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu,
umur.
b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k,
seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti
anak2, berjalan, kebarat2-an.
d. Awlan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis
serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah,
dikebun, disamarkan dengan imbuhan di-pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan yang disempurnakan
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubung dengan
Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan adalah sebagai berikut
a. Perubahan huruf
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan
dj=j djalan menjadi jalan, djauh menjadi jauh
j=y misalnya pajung menjadi payung, laju menjadi layu
nj=ny misalnya njonja menjadi nyonya, bunji menjadi
bunyi
b. Huruf-huruf dibawah ini, yang sebelumnya sudah
terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsure pinjaman abjad asing, diresmikan
pemakaianya.
f maaf, fakir
v valuta, universitas
z zeni, lejat
c. Huruf-huruf q dan x yang lajim digunakan dalam ilmu
eksakta tetap dipakai.
a : b = p : q
Sinar-X
d. Penulisan di-atau ke sebagai awalan dan di atau ke
sebagai kata depan dibedakan, yaitu di-atau ke-sebagai awalan ditulis serangkai
dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis
terpisah dengan yang megikutinya.
di- (awalan) / di (kata depan)
ditulis / di kampus
dibakar / di rumah
dilempar / di jalan
dipikirkan / di sini
ketua / ke kampus
kekasih / ke luar negeri
kehendak / ke atas
e. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh
digunakan angka 2.
anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat
C. Pemakaian Ejaan
Ejaan ini berbicara tentang (1) pemakaian huruf, (2)
penulisan huruf, (3)penulisan kata, (4) penulisan unsure-unsur serapan, dan (5)
pemakaian tanda baca.
1. Pemakaian Huruf
a. Nama-Nama Huruf
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa indonesia
terdiri atas huruf yang berikut
Nama tiap-tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf Nama
A a a
B b be bukan bi
C c ce bukan se atau si
Q q ki bukan kyu
G g ge bukan ji
T t te bukan ti
V v fe bukan fi
X x eks bukan ek
Y y ye bukan ey atau yei
b. Lafal Singkatan dan Kata
Semua singkatan atau kata yang terdapat dalam bahasa
Indonesia termasuk singkatan yang berasal dari bahasa asing harus dilafalkan
secara lafal Indonesia.
Singkatan/Kata Lafa/ Tidak Baku / Lafal Baku
AC / [a se] / [a ce]
BBC / [be be se], / [bi bi si] / [be be ce]
LNG / [el en je] / [el en ge]
Akronim bahasa asing (singkatan yang dieja seperti
kata) yang bersifat internasional mempunyai kaidah tersendiri, yakni tidak
dilafalkan seperti lafal Indonesia, tetapi singkatan itu tetap dilafalkan
seferti lafal aslinya.
Misalnya:
Kata / Lafal Tidak baku / Lafal baku
Unesco / [unestjo] / [yu nes ko]
Unicef / [unitjef] / [yu ni sef]
Sea Games / [sea games] / [si geims]
c. Penulisan Nama Diri
Penulisan nama diri, nama sungai, gunung, jalan, dan
sebagainya disesuaikan dengan kaidah yang berlaku. Penulisan nama orang, badan
hokum, dan nama diri lain yang sudah lazim, disesuaikan dengan Ejaan Bahsa
Indonesia yang disempurnakan, kecuali apabila ada pertimbangan khusus.
Petimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum, atau kesejahteraan.
Misalnya :
Universitas Padjadjaran
Soepomo Poedjosoedarmo
Imam Chourmain
2. Penulisan Huruf
Penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1)
penulisan huruf besar atau capital dan (2) penulisan huruf miring.
a. Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital
Kaidah penulisan huruf capital itu adalah sebagai
berikut.
1) petikan langsung. Misalnya
a) Dia bertanya, kapan kitapulang.
b) KetuaDEN, Emil Salim mengatakan, Perekonomian dunia
kini belum sepenuhnya lepas dari sengkeraman resesi dunia.
c) Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan,
yang perlukan oleh bangsa kita saat ini adalah rekonsiliasi nasional.
Catatan :
Tanda baca sebelum tanda petik awal adalah tanda koma
(,), bukan titik dua (:). Tanda baca akhir (tanda titik, tanda seru, dan tanda
tanya) dibubuhkan sebelum tanda petik penutup.
2) Huruf besar atau capital dipakai sebagai huruf
pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci,
san nama Tuhan, termasuk kata ganti Nya.
Misalnya
a) Limpahkanlah rahmat-Mu, ya Allah.
b) Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang menganjurkan
agar manusia berakhlak terpuji.
c) Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada
hamba-Nya.
Kata-kata keagamaan lainnya yang harus ditulis dengan
huruf capital adalah nama agama dan kitab suci, seperti Islam, Kristen, Hindu,
Budha, Alquran, Injil, dan Weda
3) Hrurf besar atau capital dipakai sebagai huruf
pertama nama gelar (kehormatan, keturunan, agama), jabatan, dan pangkat yang
diikuti nama orang.
Misalnya:
a) Pergerakan itu dipimpin oleh Haji Agus Salim.
b) Pemerintah memberikan anugerah kepada Mahaputra
Yamin.
Jika tidak diikuti oleh nama orang atau nama wilayah,
nama gelar, jabatan, dan pangkat itu harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya :
(1) Calon jemaah haji DKI tahun ini berjumlah 525
orang.
(2) Seorang presiden akan diperhatikan oleh rakyatnya.
Akan tetapi jika mengacu kepada orang tertentu, nama
gelar, jabatan, dan pangkat itu dituliskan dengan huruf capital.
Misalnya :
(1) Pagi ini Menteri Perindustrian terbang ke Nusa Penida,
di Nusa Penida, Menteri meresmikan sebuah kolam renang.
(2) Dalam seminar itu Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memberikan sambutan. Dalam sambutannya Presiden mengharapkan agar
para ilmuwan lebih ulet mengembangkan ilmunya untuk kepentingan bangsa dan
Negara.
c) Kata-kata van, den, da, de,di, bin, dan ibnu yang
digunakan sebagai nama orang tetap ditulis dengan hurup kecil, kecuali jika
kata-kata digunakan sebagai nama pertama atau terletak pada awal kalimat.
Misalnya:
(1) Tanam Paksa di Indonesia diselenggarakan oleh van
den Bosch.
(2) Harta yang melimpah milik Jufri ibnu sulaiman
sebagian akan disumbangkan
(3) Pujangga lama yang terkenal; adalah Nuruddin ar
Raniri.
4) Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya:
a) Dalam bahasa Sunda terdapat kata lahan.
b) Kita bangsa Indonesia, harus bertekad untuk
menyukseskan pembangunan.
c) Yaser Arafat, Presiden Palestina, Meninggal tahun
2004.
Sesuai dengan contoh diatas, kata suku, bangsa, dan
bahasa tetap dituliskan dengan huruf awal kecil, sedangkan yang harus
dituliskan dengan huruf kapital adlah nama suku, nama bangsa, atau nama
bahasanya, seperti Sunda, Indonesia, Palestina, dan Piliang. Akan tetapi, jika
nama bangsa, suku, dan bahasa itu sudah diberi awalan dan akhiran sekaligus,
kata-kata itu harus ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
a) Kita harus berusaha mengindonesiakan kata-kata
asing.
b) Kita tidak perlu kebelanda-belandaan karena
sekarang sudah merdeka.
c) Baru saja ia tinggal disana satu tahun, ia sudah
keinggris-inggrisan.
Demikian juga, kalau tidak membawa nama suku, nama itu
harus dituliskan dengan huruf kecil.
Misalnya:
Petai cina
Jeruk bali
Dodol garut
5) Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama tahun,bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
a) Biasanya, umat Islam seluruh dunia merasa sangat
berbahagia pada hari Lebaran.
b) Tahun 1998 Masehi adalah tahun yang suram bagi
perekonomian kita.
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama khas geografi.
Misalnya
a) Tahun 1985 Provinsi Sumatra Barat mendapat anugerah
parasamnya Purnakarya Nugraha.
b) Di Teluk Jakarta telah dibangun suatu proyek
perikanan laut.
Akan tetapi, jika tidak menunjukan nama khas geografi,
kata-kata selat, teluk, terusan, gunung, sungai, danau, dan bukit ditulis
dengan huruf kecil.
Misalnya
a) Nelayan itu berlayar sampai ke teluk.
b) Kita harus berusaha agar sungai didaerah ini tidak
tercemar
c) perahu-perahu itu akan melewati selat yang airnya
deras.
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta
nama dokumentasi resmi.
Misalnya :
a) Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia
mengucapkan sumpah di depan Sidang Umun Majelis Permusyawaratan Rakyat.
b) Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa
bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.
Akan tetapi, jika tidak menunjukkan nama resmi,
kata-kata seperti itu ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
a) Pemerintah republik itu telah menyelenggarakan
pemilihan umum sebanyak empat kali.
b) Iran adalah suatu Negara yang berbentuk kerajaan.
Huruf besar
atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata didalam nama buku,
majalah , surat kabar dan judul karangan , kecuali kata partikel sepeti di, ke,
dari, untuk, dan yang, yang terletak pada posisi awal.
Misalnya:
a) Idrus mengarang buku Dari Ave Maria ke jalan Lain
ke Roma
b) Buku pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Huruf besar atau huruf kapital dipakai dalam
singkatan nama gelar dan sapaan, kecuali gelar dokter.
Misalnya :
a) Proyek dipimpin oleh Dra. Jasika Murni
b) Hadi Nurzaman, M.A. diangkat menjadi pimpinan
kegiatan itu.
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara,
kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya :
a) Surat Saudara sudah saya terima
b) Kepala sekolah berkata kepada saya, Tadi saya
menerima berita bahwa Ibu Sri sakit keras di Bandung.
Akan tetapi, jika tidak dipakai sebagi kata ganti atau
sapaan, kata penunjuk hubungan kekerabatan itu ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya, Kita harus menghormati ibu kita dan bapak
kita
b. Penulisan huruf miring
1) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan
nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.
Misalnya
a) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menerbitkan
majalah Bahasa dan Kesusastraan.
b) Buku Negarakertagama dikarang oleh Mpu Prapanca.
2) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan
atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya
a) Kata daripada digunakan secara tepat dalam kalimat
Penyelenggaraan Pemilu 1999 lebih baik daripada pemilu-pemilu sebelumnya.
b) Buatlah kalimat dengan kata dukacita
3) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan
kata nam-nama ilmiah atau ungkapkan bahasa asing atau bahasa daerah, kecuali
yang disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
a) Apakah tidak sebaiknya kita mengungkapkan kata
penataran untuk kata upgrading?
b) Nama ilmiah buah manggis ialah cacarinia mngestana
c) Weltanschauung diterjemahkan menjadi pandangan
dunia.
3. Penulisan Kata
Kata dasar ditulis sebagai satu satuan yang berdiri
sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran)
dituliskan serangkai dengan kata dasarnya. Kalau gabungan kata hanya mendapat
awalan atau akhiran, awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata
yang bersangkutan saja.
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku / Bentuk Baku
di didik / dididik
di suruh / disuruh
di lebur / dilebur
1) kalau gabungan kata sekaligus mendapat awalan dan
akhiran, bentuk kata turunannya itu harus dituliskan serangkai.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku / Bentuk Baku
Menghancur leburkan / menghancurleburkan
Pemberi tahuan / pemberitahuan
Mempertanggung jawabkan / mempertanggungjawabkan
2) kata ulang ditulis secara lengkap dengan
menggunakan tanda hubung.
Kata ulang ,tidak hanya berupa pengulangan kata dasar
dan sebagian lagi kata turunan,mungkin pula pengulanagn kata itu sekaligus
mendapat awalan dan akhiran. Kemungkinan yang lain, salah satu bagiannya adalah
bentuk yang dianggap berasal dari kata dasar yang sama dengan ubahan bunyi.
Mungkin pula bagian itu sudah agak jauh berbeda dari bentuk dasar (bentuk
asal). Namun, apabila ditinjau dari maknanya, keseluruhan itu menyatakan
perulangan.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku / Bentuk Baku
jalan2 / jalan-jalan
di-besar2-kan / dibesar-besarkan
me-nulis / menulis-nulis
3) Gabungan kata termasuk yang lazim disebut kata
majemuk bagian-bagiannya dituliskan terpisah.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku / Bentuk Baku
dayaserap / daya serap
tatabahasa / tata bahasa
kerjasama / kerja sama
gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata
dituliskan serangkai. Misalnya :
Bentuk Tidak Baku / Bentuk Baku
Mana kala / manakala
Sekali gus / sekaligus
Bila mana / bilamana
4. Penulisan Unsur Serapan dan Pemakaian Tanda Baca
Kata serapan dalam bahasa indonesia sangat sering kita
pakai saat menulis artikel. Dalam ragam artikel tertentu, bahkan kata serapan
yang kita pakai cenderung lebih banyak ketimbang ragam lainnya. Misalnya dalam
penulisan artikel ragam ilmiah
Kata serapan dalam bahasa Indonesia, jika melihat
asal-usulnya, ada yang berasal dari bahasa Sansekerta, Belanda, Portugis dan
Arab serta Cina dan Inggris. Lalu, dari sisi tingkat penerimaan dalam bahasa
Indonesia, kosakata serapan itu secara umum terbagi dalam dua kelompok.
Yang pertama, kata-kata asing itu belum terserap
sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Yang kedua, kata-kata serapan yang sudah
lebih diterima sebagai kosakata bahasaIndonesia. Ditandai dengan cara
pengucapan dan penulisan yang sudah menyesuaikan dengan kaidah-kaidah bahasa
Indonesia.
A. Penulisan Unsur Serapan
Berdasarkan taraf integrasinya unsure pinjaman dalam
bahasa Indonesia dapat dibagi dalam dua golongan besar.
Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap kedalam
bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, Iexplotation de Ihomme par
Ihomme, unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara asing
Kedua, unsur yang pengucapan dan penulisannya
disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia diusahakan agar ejaan asing hanya
diubah seperlunya hingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan
bentuk asalnya.
Disamping itu, akhiran yang berasal dari bahasa asing
diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata separti standardisasi,
implementasi, dan objektif diserap secara utuh disamping kata standar,
implement, dan objek.
Berikut ini didaftarkan sebagian kata asing yang
diserap kedalam bahasa Indonesia, yang sering digunakan oleh pemakai bahasa.
Kata Asing / Penyerapan yang Salah / Penyerapan yang
Benar
Risk / resiko / risiko
System / sistim / sistem
Effective / efektip / efektif
Technique, teckniek tehnik, tehnologi tekhnik,
tekhnologi
Echelon esselon eselon
Kata-kata dari bahasa asing yang belum terserap
sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata serapan tersebut dipakai dalam
bahasa Indonesia, tapi cara penulisan dan pengucapan masih mengikuti kaidah
bahasa asal.seprti spirit atau blouse
Kosakata dari bahasa asing yang penulisan dan
pengucapannya sudah menyesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalnya kubik
(berasal dari bahasa asing cubic, ada penyesuaian pengucapan dan penulisan)
manfaat (berasal dari bahasa asing manfaah, ada
penyesuaian pengucapan dan penulisan)
Dalam proses penyerapan kosakata asing menjadi
kosakata bahasa Indonesia, ada banyak kaidah yang mengatur proses pembentukan
kata baru. Sebuah huruf tertentu akan berubah menjadi huruf lainnya begitu
kosakata asing itu kita serap menjadi kosakata bahasa Indonesia. Sebagian
lainnya tak berubah. Coba perhatikan beberapa contoh berikut;
Jika (ain Arab) diikuti dengan (a) menjadi (a), dalam
kaidah bahasa Indonesia diserap menjadi (a) saja.
Contoh;
(manfaah ) diserap dalam bahasa Indonesia,ejaan kata
serapannya menjadi (manfaat)
(asr) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (asar)
(saah) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (saat)
Catatan: contoh-contoh kata serapan di atas, selain
mengalami penyesuaian penulisan juga pengucapan.
Jika (ain Arab) berada di akhir suku kata, akan
berubah menjadi (k) Contoh;
(mana) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (makna)
(rayah) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (rakyat)
Huruf (aa dalam bahasa Belanda), dalam bahasa
Indonesia berubah menjadi (a) Contoh;
(octaaf) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (oktaf)
(paal) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (pal)Gabungan vokal (ae) diserap dalam bahasa Indonesia
menjadi dua bentuk, ada yang tetap (ae) dan ada yang berubah menjadi (e)
Contoh (ae) yang tidak berubah; (aerobic) diserap
dalam bahasa Indonesia, ejaan kata serapannya menjadi (aerobik) .
(aerodinamics) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata serapannya menjadi
(aerodinamika) , (aerobe) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata serapannya
menjadi (aerob)
Contoh (ae) yang berubah menjadi (e) (haemoglobin)
jika diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata serapannya menjadi (hemoglobin)
Gabungan vokal (ai) tetap menjadi (ai)
Contoh;
(trailer) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (trailer)
(caisson) diserap dalam bahasa Indonesia, ejaan kata
serapannya menjadi (kaison)
Dalam kaidah bahasa Indonesia, kosakata serapan sudah
begitu banyaknya. Tapi masalahnya, banyak yang abai, mulai dari sejarah katanya
atau etimologi hingga kebakuan menurut Ejaan Yang Disempurnakan EYD. Padahal,
salah satu syarat dalam menulis artikel yang bagus kepatuhan pada kaidah
ketatabahasaan sangat penting artinya.
B. Pemakaian Tanda Baca
Pemakaian tanda baca dalam ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan mencakup pengaturan (1) tanda titik, (2) tanda koma,(3) tanda
titik koma, (4) tanda titik dua, (5) tanda hubung, (6) tanda pisah, (7) tanda
ellipsis, (8) tanda tanya, (9) tanda seru, (10) tanda kurung, (11) tanda kurung
siku, (12) tanda petik, (13) tanda petik tunggal, (14) tanda ulang, (15) tanda
garis miring, dan(16)pernyingkat (apostrof).
1. Tanda Titik
a. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama
orang.
Misalnya:
1) W.S Rendra
2) Abdul Hadi W.M
3) Ach. Sanus
b. Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan,
pangkat dan sapaan.
Misalnya :
1) Dr. (doctor)
2) dr. (dokter)
3) S. Ked. (sarjana kedokteran)
c. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau
ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
Bentuk Tidak Baku / Bentu Baku
s/d (sampai dengan) / s.d. (sampai dengan)
a/n (atas nama) / a.n. (atas nama)
d/a (dengan alamat) 3) d.a (dengan nama)
d. Tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan
jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan, dan seterusnya.
Misalnya :
Tebal buku itu 1.150 halaman
Akan tetapi, jika angka itu tidak menyatakan suatu
jumlah, tanda titik tidak digunakan. Nomor telepon dan no rekening tidak diberi
tanda titik pada setiap tiga angka.
Misalnya : tahun 2000, halaman 1234, NIM 1347441008
e. Tanda titik tidak digunakan pada singkatan yang
terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang
terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang dieja
seperti kata (akronim).
Misalnya : SMA, DPR, PGSD
f. Tanda titik tidak digunakan dibelakang singkatan
lambing kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Misalnya :
1) Lambang Cu adalah lambing kuprum.
2) Seorang pilang membeli 10 kg emas batangan.
3) Harga karton manila itu Rp1.500,00 per meter.
g. Tanda titik tidak digunakan dibelakang judul yang
merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi table, dan sebagainya.
Misalnya : Acara Kunjungan Menteri Kesra Abu
Rizalbakri
h. Tanda titik tidak digunakan dibelakang alamat
pengirim dan tanggal surat serta dibelakang nama dan alamat penerima surat.
Misalnya :
1) Jalan Harapan III/AB 19
2) Jakarta, 10 Agustus 1998
3) Yth. Sdr. Imam Kurnia
2. Tanda Koma
Ada kaidah yang mengatur kapan tanda koma digunakan
dan kapan tanda koma tidak digunakan.
a. Tanda koma harus digunakan di antara unsur-unsur
dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Misalnya :
Saya menerima hadiah dari Paman berupa jam tangan,
raket, dan sepatu.
b. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan kalimat
serara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi
, melainkan dan sedangkan.
Misalnya :
Dia bukan mahasiswa Jayabaya, melainkan Mahasiswa
Atmajaya.
c. Tanda koma harus digunakan untuk memisahkan anak
kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk
kalimatnya. Biasanya anak kalimat didahului oleh kata penghubung bahwa,
karena,agar sehingga, walaupun,apabila,jika,meskipun,dan sebagainya.
Misalnya
Apabila belajar sungguh-sungguh, saudara akan berhasil
dalam ujian.
d. Tanda koma harus digunakan dibelakang kata atau
ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Oleh karena itu, kita harus menghormati pendapatnya.
e. Tanda koma harus digunakan dibelakang kata-kata
seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Kasihan, dia harus mengikuti ujian akhir semester I
lagi.
f. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya :
1) saya sedih sekali, kata paman, karena kamu tidak
lulus.
2) Kata petugas, kamu harus berhati-hati dijalan raya.
g. Tanda koma digunakan di antara (1) nama dan alamat,
(2) bagian-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, dan (4) nama tempat wilayah
atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Anak saya mengikuti kuliah di jurusan Perbankan,
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, Jalan Perbanas, Kuningan, Jakarta
Selatan.
h. Tanda koma digunakan untuk menceraikan bagian nama
yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya :
Badudu, Yus. 1980. Membina Bahasa Indonesia Baku. Seri
1, Bandung:Pustaka Prima.
i. Tanda koma diguakan diantara nama orang dan gelar
akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama keluarga
atau marga.
Misalnya :
A. Ansori, S.H.
j. Tanda koma digunaka untuk mengapit keterangan
tambahan dan keterangan aposisi.
Misalnya :
Seorang warga, selaku wakil RT 02, mengemukakan
pendapatnya.
k. Tanda koma tidak boleh digunakan untuk memisahkan
anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk
kalimat.
misalnya :
Menteri mengatakan bahwa pembangunan harus
dilanjutkan.
3. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan
kaliamat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata
penghubung.
Misalnya :
Para pemikir mengatur strategi dan langkah yang harus
ditempuh; para pelaksana mengerjakan tugas sebaik-baiknya; para penyandang
danan menyediakan biaya yang diperlukan.
4. Tanda Titik Dua ( : )
a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan
lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya :
Perguruan Tinggi Nusantara mempunyai tiga jurusan:
Sekolah Tinggi Tekhnik, Sekolah Tinggi Ekonomi, dan Sekolah Tinggi Hukum.
b. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau
pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya :
Perguruan Tinggi Nusantara mempunyai Sekolah Tinggi
Teknik, Sekolah Tinggi Ekonomi, dan Sekolah Tinggi Hukum.
5. Tanda Hubung ( - )
a. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas
hubunga bagian-bagian ungkapan.
b. tanda hubungan dipakai untuk meerangkaikan (a) se
dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf capital, (b) ke dengan angka,
(c) angka dengan-an, dan (d) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
Misalnya: se-jawa, 1960-an
6. Tanda Pisah ( - )
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat, menegaskan adanya posisi atau
keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi jelas, dan dipakai diantara dua
bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau diantara dua nama kota
yang berarti ke atau sampai,panjangnya dua ketukan.
Misalnya:
a. Kemerdekaan bangsa itu saya yakin akan tercapai
diperjuangkan oleh bengsa itu sendiri.
b. Pemerintah Habibi tahun Mei 1998- Desember 1999.
c. Bus Kranatjati jurusan Banjar-Jakarta.
7. Tanda Petik (")
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung,
judul syair, karangan, istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal.
Misalnya:
Hasan, Saya ikut.
Kata Sajak Aku karangan Chairil Anwar.
8. Tanda Petik Tunggal (')
Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau
penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misalnya:
Lailatil Qa'dar malam bernilai
9. Tanda Apostrof (')
Tanda apostrof digunakan untuk menyingkat kata.
Tanda ini banyak digunakan dalam ragam sastra.
Contoh:
kan kucari dari akan kucari
5. Kalimat Dalam Bahasa Indonesia
A. Pengertian Kalimat
Sebelum kita membicarakan tentang unsur kalimat bahasa
Indonesia,kita perlu mengetahui arti dari kalimat itu sendiri,Kalimat
adalah:Satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan
suatu pikiran yang utuh . Setiap kalimat yang dibentuk harus memiliki
keharmonisan.Keharmonisan kalimat artinya kalimat yang kita buat harus harmonis
antara pola berpikir dan struktur bahasa. Agar kalimat Anda harmonis, setiap
kalimat yang Anda buat harus mempunyai kejelasan unsur-unsur gramatikalnya,
seperti terdiri dari beberapa unsur antara lain subyek,predikat, obyek
,pelengkap dan keterangan. Bila tidak memiliki subjek dan predikat maka bukan
disebut kalimat tetapi disebut frasa . Inilah yang membedakan kalimat dengan
frasa.
B. Pola Dasar Kalimat
Secara sederhana, kesatuan gagasan diwakili oleh pola
sebagai berikut :
Subyek + Predikat + Obyek + Pelengkap + Keterangan
(S) (P) (O) (Pel) (Ket)
Subjek (S) ialah bagian kalimat yang menunjukan
pelaku, tokoh, sosok, benda, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi
pangkal atau pokokpembicaraan.
1.Ciri-Ciri Subjek
- Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa kepada
Predikat.
- Berupa kata benda atau kata lain yang dibendakan
Contoh :
Eriza adalah salah satu fans dari Agnes Monica .
Siapa salah satu fans Agnes Monica? Jawabannya : Eriza
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu
melakukan apa atau dalam keadaan bagaimana subjek. Predikat dapat juga berupa
sifat, situasi, status, ciri atau jatidiri subjek. Fungsi predikat menyatakan
pernyataan, perintah, atau pertanyaan.
Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva
dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan.
Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya
berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan
sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.
Menimbulkan Pertanyaan apa atau siapa.
Dalam hal ini jika predikat maka dengan pertanyaan
tersebut akan ada jawabannya.
Perhatikan pada Subyek diatas. Subyek dan predikat
ditentukan secara bersama-sama.
Kata Adalah atau Ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah.
Kalimat dengan Predikat demikian itu terutama digunakan pada kalimat majemuk
bertingkat anak kalimat pengganti predikat.
Predikat dapat berupa :
- kata benda / frase nominal,
- kata kerja / frase verbal,
- kata sifat / frase adjektival,
- kata bilangan / frase numeral,
- kata depan / frase preposision
Obyek (O)
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat
menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai
dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat
pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya. Langsung di
Belakang Predikat Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak
pernah mendahului predikat.
Pelengkap (Pel)
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap
tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap
dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan
pelengkap.
Keterangan (Ket)
Keterangan ialah bagian kalimat yang menerangkan
berbagai hal mengenai bagian yang lainnya.
Ciri-ciri keterangan yaitu :
1. Berupa kata, frase dan klausa, didahului kata
depan,dan tidak terikat posisi.
2. Dapat dipindah pindah posisinya . perhatikan contoh
berikut:
Cintya sudah membuat tiga kue dengan bahan itu.
S P O K
Dengan bahan itu Cintya sudah membuat tiga kue .Cintya
dengan bahan itu sudah membuat tiga kue.
Dari jabatan SPOK menjadi KSPO dan SKPO .Jika tidak
dapat di pindah maka bukan keterangan.
Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat
berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. Kalimat majemuk
dapat bersifat setara (koordinatif), tidak setara (subordinatif), ataupun
campuran (koordiatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam
kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.
C. Macam-macam Kalimat
Kalimat Majemuk : kalimat-kalimat yang mengandung dua
pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
1. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal
sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya: Agnes menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca Majalah (kalimat tunggal II)
Agnes menulis surat dan Bapak membaca majalah
2. Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya
diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola
kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya:
Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca
puisi. (subjek pada kalimat pertama diperluas)
Kalimat Tunggal :
kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti
pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu
atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur
tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat
dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat
majemuk campuran.
1. Kalimat majemuk setara : kalimat majemuk yang
hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat
Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya
menggunakan kata-kata tugas: dan,serta, lagipula, dan sebagainya.
Contoh: Nobita pemuda yang pintar lagi pula tampan.
b. Kalimat majemuk setara memilih. Biasanya memakai
kata tugas: atau, baik, maupun.
Contoh: Eriza main bola atau Eriza pergi ke lapangan.
c. Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai
kata tugas: tetapi, melainkan.
Contoh: dia sangat cantik tetapi dia malas
2. Kalimat majemuk bertingkat : terdiri dari perluasan
kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru
yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk
kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat
penggati subjek.
Contoh: Diakuinya(P) hal itu(S). Diakuinya(P) bahwa
Agnes memang hebat (anak kalimat pengganti subjek).
b. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat
pengganti predikat.
Contoh: Katanya begitu. Katanya bahwa ia tidak sengaja
menjatuhkan gelas it
c. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat
pengganti objek.
Contoh: Mereka sudah mengetahui hal itu.
Mereka sudah mengetahui bahwa dia yang menjadi peran
utama.
d. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti
keterangan.
Contoh: Rafli Bekerja pagi hari. Rafli bekerja ketika
kami sekolah.
e. Kalimat majemuk campuran : kalimat majemuk hasil
perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya
terdiri atas tiga pola kalimat.
Contoh: Ketika ia duduk minum-minum(pola atasan),
datang seorang wanita berpakaian bagus(pola bawahan), dan menggunakan kendaraan
roda empat (pola bawahan
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Sebagai media pemersatu, ada bebrapa point yang perlu
diketahui tentang bahasa indonesia itu sendiri. Beberapa diantaranya yaitu:
1. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
2. Pemakaian bahasa Indonesia baku. Inilah substansi
utama dalam menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini di dasari pada:
a. Bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang
dijadikan pokok ajuan, yang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar.
b. Ragam bahasa baku bahasa Indonesia memang sulit
untuk dijalankan, atau yang digunakan karena untuk memahaminya dibutuhkan daya
nalar yang tinggi.
c. Dengan menggunakan ragam bahasa baku, seseorang
akan menaikkan
prestisenya.
3. Penggunaan unsur serapan
4. Menggunakan kalimat yang tepat.
B. SARAN
Pembelajaran tentang penggunaan bahasa baik dan benar
ataupun penggunaan bahasa indonesia baku seharusnya paerlu di tanamkan sejak
dini. Hal ini juga bermanfaat untuk menghindari salah kaprah dalam
berkomunikasi.
DAFTAR PUSTAKA
http://google.com kata kunci ragam bahasa
indonesia, unsur serapan dalam bahasa indonesia dan bahasa baku dan nonbaku
http://wikipedia.com http://gajahpesing.blogdetik.com/bahasa-…
http://makalahdocx.blogspot.com/2015/02/contoh-makalah-ragam-bahasa.html
Arifin, Zainal, E. 1985. Cermat Berbahasa Indonesia
untuk perguruan tinggi. Jakarta: Antar Kota.
Badudu, j.s. 1994. Tata Bahasa Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Bhrata Media.
Chaer, abdul. 1989. Tata Bahasa Indonesia. Ende
Flores: Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia
Untuk Umum. Jakarat: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar