Kamis, 29 Oktober 2015

TUGAS SOFTSKILL BAHASA INDONESIA "EYD"


MAKALAH EYD
 BAHASA INDONESIA




DISUSUN OLEH : AKBAR (20113542) 3KB01



BAB I 
PENDAHULUAN
1.1.       LATAR BELAKANG

       Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) pada dasarnya merupakan ejaan bahasa Indonesia hasil dari penyempurnaan terakhir atas ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia. Sebelum EYD diberlakukan di Indonesia pernah berlaku ejaan Ch. A. Van Ophuysen, ejaan Republik (ejaan Soewandi) dan ejaan Malindo.

        Adapun yang disempurnakan itu bukan bahasa Indonesianya, melainkan ejannya yakni tata cara penulisan yang baku.

         Selama ini belum semua orang mematuhi kaidah yang tercantum dalam EYD, baik karena belum tahu, enggan mematuhi atau karena ada pedoman yang mereka pegang selama ini yang mereka anggap pedoman itu sudah tepat. Tindakan seperti ini jelas dapat mengacaukan perkembangan bahasa Indonesia. Padahal dengan diberlakukannya EYD, seharusnya setiap warga negara Indonesia, termasuk warga pengadilan sebagai pemakai bahasa Indonesia wajib mengikuti dan mematuhi kaidah-kaidah yang tercantum di dalamnya.

Ejaan yang Disempurnakan (EYD) adalah submateri dalam ketatabahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan dipahami secara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian masyarakat, sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.


1.2.       RUMUSAN MASALAH
Atas dasar penentuan latar belakang tersebut, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai berikut:
1.             Apa itu pengertian ejaan?
2.             Apa itu pengetian Ejaan yang Disempurnakan?
3.             Bagaimana pemakaian huruf menurut Ejaan yang Disempurnakan?
4.             Bagaimana penulisan kata menurut Ejaan yang Disempurnakan?
5.             Bagaimana pemakaian angka dan bilangan menurut Ejaan yang Disempurnakan?
6.             Bagaimana penulisan unsur serapan menurut Ejaan yang Disempurnakan?
7.             Bagaimana pemakaian tanda baca menurut Ejaan yang Disempurnakan?
8.             Bagaimana menulis kalimat yang baik dan benar?
1.3.       MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: pengertian ejaan, pengertian Ejaan yang Disempurnakan, cara pemakaian huruf, cara penulisan kata, cara pemakaian angka, cara penulisan unsur serapan, dan cara pemakaian tanda baca yang sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan, serta cara menulis kalimat yang baik dan benar.


BAB II 
PEMBAHASAN
2.1.       PENGERTIAN EJAAN DAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
Ejaan adalah keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman.Ejaan yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.Ejaan yang Disempurnakan(EYD) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yangmengatur:
1.             Pemakaian Huruf
2.             Pemakaian Huruf Kapital
3.             Pemakaian Huruf Miring
4.             Penulisan Kata Dasar
5.             Penulisan Kata Turunan
6.             Penulisan Bentuk Ulang
7.             Penulisan Gabungan Kata
8.             Penulisan Kata Ganti
9.             Penulisan Kata Depan
10.         Penulisan Kata Si dan Sang
11.         Penulisan Partikel
12.         Penulisan Singkatan
13.         Penulisan Akronim
14.         Angka dan Lambang Bilangan
15.         Penulisan Unsur Serapan
16.         Pemakaian Tanda Titik
17.         Pemakaian Tanda Koma
18.         Pemakaian Tanda Titik Koma
19.         Gaya Bahasa


2.2.       PEMAKAIAN HURUF
1.             Huruf Abjad
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, dan Z.
2.             Huruf Vokal
Huruf a, e, i, o, dan u.
3.             Huruf Konsonan
Huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y dan z.
4.             Huruf Diftong
Huruf ai, au, oi, dan ei. Huruf au, ua, dan deret vokal lainnya tidak termasuk.
5.             Gabungan Huruf Konsonan
Huruf kh, ng, ny, dan sy.
6.             Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan dengan cara:
a.             Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf vokal itu.
Contoh: aula menjadi au-la bukan a-u-l-a.
b.             Jika di tengah kata ada konsonan termasuk gabungan huruf konsonan,  pemenggalan itu dilakukan sebelum huruf konsonan.
Contoh: bapak  menjadi ba-pak.
c.             Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf  itu.
Contoh: mandi menjadi man-di.
d.            Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan, pemenggalan itu dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan kedua.
Contoh: ultra  menjadi ul-tra.


2.3.       PEMAKAIAN HURUF KAPITAL
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung, ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, hari, nama geografi, dll.
1.             Ungkapan yang Berhubungan dengan Nama Tuhan
Contoh: Tuhan Yang Maha Esa, puji syukur kepada-Nya
2.             Gelar Kehormatan
Contoh: Nabi Muhammad SAW., Nabi Isa as.
3.             Huruf Pertama Petikan Langsung
Contoh:
4.             Jabatan dan Pangkat Diikuti Nama Orang, Instansi, atau Jabatan
Contoh: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaluddin Rakhmat, Sekretaris Jendral, Departemen Pendidikan Nasional.
Jabatan tidak diikuti nama orang tidak memakai huruf kapital. Contoh: Menurut bupati, anggaran untuk pendidikan naik 25% dari tahun sebelumnya.
5.             Nama Orang
Contoh: Annisa Intan Shabrina, Aslam Kamal Afdhal, Habiburrahman Haramain, Muhammad Fariz.
6.             Huruf Pertama Nama Bangsa, Suku Bangsa, dan Bahasa
Contoh: bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh: ke-Sunda-Sundaan,ke-Inggris-Inggrisan,ke-Batak-Batakan, meng-Indonesiakan. Seharusnya: kesunda-sundaan, keinggris- inggrisan, kebatak-batakan, mengindonesiakan.
7.             Huruf Pertama Nama Hari, Bulan, dan Tahun
Contoh: hari Senin, bulan Januari, tahun Hijriah.
8.             Huruf Pertama Nama Geografi sebagai Nama Jenis
Contoh: Selat Sunda, Teluk Alaska, Kali Angke, dll.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Contoh: berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara, kacang bogor, salak bali.
9.             Penulisan Kata Depan dan Kata Sambung
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Biasanya dipakai pada penulisan judul cerpen, novel.
Contoh:Harimau TuadanAyam Centil,Hari-Hari PenantiandalamGua  Neraka,Kado untuk Setan, Taksi yang Menghilang.
10.         Setiap Unsur Bentuk Ulang Sempurna
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plastik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
2.4.       PEMAKAIAN HURUF MIRING
Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk menegaskan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
1.             Huruf miring dalam cetakan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos, dsb.
2.             Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk penulisan bahasa asing. Contoh: boat modeling, aeromodeling, motorsport, dsb.
3.             Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam. Contoh:
4.             Huruf miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Contoh: royal-purple amethyst, crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.


2.5.       PENULISAN KATA DASAR
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: kantor pos sangat ramai, buku itu sudah saya baca, adik naik sepeda baru. Ketiga kalimat ini dibangun dengan gabungan kata dasar.
2.6.       PENULISAN KATA TURUNAN
1.             Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh: berbagai, ketetapan, sentuhan, terhapus.
2.             Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh: diberi tahu, beritahukan, bertanda tangan, tanda tangani, berlipat ganda, lipat gandakan.
3.             Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: memberitahukan, ditandatangani, melipatgandakan.
2.7.       PENULISAN BENTUK ULANG
Bentuk kata ulang ditulis hanya dengan tanda hubung (-).Contoh: anak-anak, buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, dsb.
2.8.       PENULISAN GABUNGAN KATA
1.             Gabungan kata yang lazim disebutkan kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Contoh: duta besar, kerja sama, kereta api cepat luar biasa, meja tulis, orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.
2.             Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Contoh: alat pandang-dengar (audio-visual), anak-istri saya (keluarga), buku sejarah-baru (buku sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda (ayah ibu muda) kaki-tangan penguasa (alat penguasa).
3.             Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata.
Contoh: acapkali, apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, halal-bihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga, radioaktif, saputangan.
4.             Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, inkonvensional, kosponsor,mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna,prasangka, purna-wirawan, swadaya, telepon, transmigrasi.
5.             Jika suatu kata diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur kata ituditulisakan tanda hubung (-).
Contoh: non-Asia, neo-Nazi.
2.9.       PENULISAN KATA GANTI
Kata ganti ku, kau, mu, dan nyasebagai bentuk singkat kata aku engkau kamu dia, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.Contoh: kubawa (aku bawa), kaubawa (engkau bawa), bukuku (buku aku), bukumu (buku kamu), bukunya (buku dia).
2.10.   PENULISAN KATA DEPAN
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripda.Contoh: Tinggalah bersama saya di sini; Di mana orang tuamu?; Saya sudah makan di rumah teman; Ibuku sedang ke luar kota; Ia pantas tampil ke depan; Duduklah dulu, saya mau ke dalam sebentar.
2.11.   PENULISAN KATA SI DAN SANG
Kata si dan sang, Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.Contoh: sang pujaan hati, kepunyaan si dia.
2.12.   PENULISAN PARTIKEL
1.             Partikel -lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: bacalah, tidurlah, apakah,  siapakah, apatah.
2.             Partikel pun ditulisterpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh: siapa pun.
3.             Pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Contoh: per semester.
2.13.   PENULISAN SINGKATAN
Singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya diperpendek terdiri dari huruf awalnya saja, menanggalkan sebagian unsurnya atau lengkap menurut lisannya yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
1.             Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh: Muh. Yamin; M.B.A. (master or business administration); M.Sc. (master of science); S.E. (sarjana ekonomi); Bpk. (bapak); Sdr. (saudara).
2.             Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh: DPR – Dewan Perwakilan Rakyat; PT – Perseroan Terbatas; KTP – Kartu Tanda Penduduk.
3.             Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Singkatan yang terdiri dari dua huruf diikuti tanda titik pada setiap hurufnya.
Contoh: dll. – dan lain-lain; dsb. – dan sebagainya; sda. – sama dengan di atas; Yth. – Yang terhormat; a.n. atas nama (bukan a/n); d.a. dengan alamat (bukan d/a); u.b. untuk beliau (bukan u/b); u.p. untuk perhatian (bukan u/p).
4.             Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh: Cu (kuprum/timah); TNT (trinitroluen); cm (sentimeter); Rp (rupiah).
2.14.   PENULISAN AKRONIM
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
1.             Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal sari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh: ABRI – Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; LAN – Lembaga Administrasi Negara; IKIP – Institut Keguruan Ilmu Pendidikan.
2.             Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Contoh: Akabri – Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; Bappenas – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
3.             Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: pemilu – pemilihan umum; rapim – rapat pimpinan.
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:Jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku kata yang lazim pada kata Indonesia.Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
2.15.   ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN
1.             Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000).
2.             Angka digunakan untuk menyatakan: (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Contoh: 0,5 sentimeter; 5 kilogram; 4 meter persegi; 10 liter; 1 jam 20 menit
pukul 15.00; tahun 1928; 17 Agustus 1945; Rp5.000,00; US$3,50; $5,10; ¥100; 2.000 rupiah; 50 dolar Amerika; 10 paun Inggris; 100 yen; 10 persen; 27 orang
3.             Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Contoh: Jalan Tanah Abang I No. 15; Hotel Indonesia, Kamar 169.
4.             Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Contoh: Bab X, Pasal 5, halaman 252; Surah Yasin: 9.
5.             Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a.     Bilangan utuh
Contoh: dua belas (12); dua puluh dua (22); dua ratus dua puluh dua (222); dua ribu dua ratus dua puluh dua (2222)
b.    Bilangan pecahan
Contoh: setengah (1/2); tiga perempat (3/4); seperenam belas (1/16); tiga dua pertiga (3 2/3); seperseratus (1/100); satu persen (1%).
6.             Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti.
Contoh: tahun ’50-an (tahun lima puluhan); uang 5000-an (uang lima ribuan); lima uang 1000-an (lima uang seribuan).
7.             Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan pemaparan.
Contoh: Amir menonton drama itu sampai tiga kali; memesan tiga ratus ekor ayam; di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko; kendaraan yang ditempuh untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
8.             Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu. Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.Bukan: 15 orang tewas dalam kecelakaan itu. Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
9.             Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Contoh: Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
10.         Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh: Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.Bukan: Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
11.         Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Contoh: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
2.16.   PENULISAN UNSUR SERAPAN
Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang di Indonesiakan. Proses penyerapannya terjadi karena proses adaptasi dan asimilasi.
1.             Proses adaptasi bila sebuah kata secara utuh diserap tanpa adanya perubahan dan pelafalan.
Contoh: coffe break, money politics, money changer, super power, reshuffle.
2.             Proses asimilasi ialah bila sebuah kata asing diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan perubahan sesuai pengucapan dan bentuk penulisan Indonesianya.
Contoh :
a.             contingent               → kontingen dilafalkan kontingen
b.             directur                   → direktur dilafalkan direktur
c.             effective                  → efektif dilafalkan efektif
d.            trotoir                      → trotoar dilafalkan trotoar
e.             survey                     → survai dilafalkan surfey
f.              carier                       → karier dilafalkan karir
g.             percentage               → persentase dilafalkan persentase bukan prosentase
h.             complex                  → kompleks dilafalkan kompleks
Pelafalan yang benar ialah pelafalan yang mengikuti kata serapan bahasa
Indonesia bukan bentuk asingnya. Di samping itu, unsur serapan bahasa
Indonesia juga dipengaruhi adanya imbuhan asing, antara lain: isasi, is, or, al, wi, man.
2.17.   PEMAKAIAN TANDA TITIK (.)
1.             Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh: Ayahku tinggal di Aceh. Anak kecil itu menangis. Mereka sedang minum kopi. Adik bungsunya bekerja di Samarinda.
2.             Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab.
Contoh:
III.       Departemen Dalam Negeri
            A.        Direktorat Jendral PMD
            B.        Direktorat Jendral Agraria
                        1.         Subdit......
                        2.         Subdit......
3.             Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu.
Contoh: pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)
4.             Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh: Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345 dan seterusnya. Nomor gironya 5645678.
5.             Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh: Lawrence, Marry S, Writting as a Thingking Process. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1974.
6.             Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh: Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang. Koleksi buku di perpustakaanku sebanyak 2.799.
7.             Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel.
Contoh: Catur Untuk Semua Umur (tanpa titk). Gambar 1: Bentuk Surat Resmi Indonesia Baru (tanpa titik).
8.             Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim atau tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Contoh:
Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa titik)
Yth. Bapak. Tarmizi Hakim (tanpa titik)
Jalan Arif Rahman Hakim No. 26 (tanpa titik)
Palembang 12241 (tanpa titik)
Sumatera Selatan (tanpa titik)
Kantor Pengadilan Negeri (tanpa titik)
Jalan Teratai II/ 61 (tanpa titik)
Semarang 17350 (tanpa titik)
2.18.   PEMAKAIAN TANDA KOMA (,)
1.             Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Contoh: Reny membeli permen, roti, dan air mineral. Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus, memerlukan prangko.
2.             Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Contoh: Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
3.             Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Kalau hujan tidak reda, saya tidak akan pergi.
4.             Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak itu mengiringi induk kalimatnya.
Contoh: Saya tidak akan pergi kalau hujan tidak reda.
5.             Tanda koma harus dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh: Meskipun begitu, kita harus tetap jaga-jaga.
6.             Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Contoh: O, begitu? Wah, bagus, ya? Aduh, sakitnya bukan main.
7.             Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata ibu, ”Saya berbahagia sekali”. ”Saya berbahagia sekali,” kata ibu.
8.             Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh: Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta Pusat.
9.             Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diskusi Insan Mulia, 2001), hlm. 27.
10.         Tanda koma dipakai di antara orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Contoh: A. Yasser Samad, S.S. Zukri Karyadi, M.A.
11.         Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: Guru saya, Pak Malik, pandai sekali. Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih. Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti praktik komputer.
12.         Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersunguh-sungguh. Atas pertolongan Dewi, Kartika mengucapkan terima kasih.
13.         Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Contoh: ”Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta. ”Baca dengan teliti!” ujar Bu Guru.
2.19.   PEMAKAIAN TANDA TITIK KOMA (;)
1.             Tanda titik koma untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Hari makin siang; dagangannya belum juga terjual.
2.             Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Contoh: Ayah mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghapal nama-nama menteri; saya sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.
3.             Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan.
Contoh: Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamong praja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.


2.20.   GAYA BAHASA.
Gaya bahasa atau majas atau kiasan adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda lain atau hal lain yang lebih umum.Majas dapat digolongkan sebagai berikut: Majas perbandingan, pertentangan, pertautan; dan perulangan.
1.             Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 4 jenis, yaitu:
a.             Majas Perumpaan
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja dianggap sama.Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka, sepantun, laksana, umpama.Contoh: Bak mencari kutu dalam ijuk (Melakukan sesuatu yang mustahil); Bagai kambing dihalau ke air (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu); Semanis madu; Sedalam laut; Secantik bidadari; Sesegar udara pagi.
b.             Majas Metafora
Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.Contoh: Kapan Anda bertemu dengan lintah darat itu?; Siti Mutmainah adalah kembang desa di sini; Kelaparan masih tetap menghantui  rakyat Etiopia; Nina tangkai hati  ibu.
c.             Majas Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup. Contoh: Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh; Matahari mulai merangkak  ke atas; Kabut tebal menyelimuti desa kami; Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk.
d.            Majas Alegori
Alegori pada umumnya menganding sifat-sifat moral manusia.Contoh: Mendayung bahtera rumah tangga (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga).
2.             Majas Pertentangan
Majas pertentangan terdiri dari 7 jenis, yaitu:
a.             Majas Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebihan.Contoh: Keringatnya menganak sungai; Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b.             Majas Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga hiperbola negatif.Contoh: Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi tenggorokan saja yang ada; Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.
c.             Majas Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran.Contoh: Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati; Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.
d.            Majas Antonomasia
Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.Contoh: Sssssttt, lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya; Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya; Kemarin saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo.
e.             Majas Oksimoron
Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang mengandung hal-hal yang bertentangan.Contoh:Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau bangsa.


f.              Majas Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.Contoh:Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
g.             Majas Kontradiksio
Kontradiksio adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang sudah dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian.Contoh: Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri yang bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
3.             Majas Pertautan
Majas pertautan terdiri dari 4 jenis, yaitu:
1.             Majas Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya.Contoh: Ayah suka mengisap gudang garam (Maksudnya rokok).
2.             Majas Sinekdok (pars pro toto dan totem pro parte)
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
-               Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan.
Contoh:
Telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
Sudah lama tak nampak batang hidungmu. 
Ia harus bekerja keras karena banyak mulut yang harus disuapi.
Untuk biaya tiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp 1.500,00
-               Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian saja.
Contoh:
Dalam tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
Musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.


3.             Majas Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan. Contoh: Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi (Membual/beromong-omong); Ah, kau ni memang tua-tua keladi (Maksudnya makin tua makin menjadi).
4.             Majas Eufemisme
Eufemisme adalah majaskiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.Contoh: Orang itu memang bertukar akal (Pengganti gila); Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek (Pengganti harimau); Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM (Pengganti menaikkan).
4.             Majas Perulangan/Penegasan
Majas perulangan/penegasan terdiri dari 10 jenis, yaitu:
a.             Majas Pleonasme
Majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata.Contoh:Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan barang-barangnya yang jatuh.
b.             Majas Klimaks
Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menghebat.Contoh:Mulai dari sepeda, motor, sampai mobil bejejer di halaman.
c.             Majas Antiklimaks
Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menurun (melemah).Contoh: Bapak Kepala Sekolah, Para guru, dan murid-murid, sudahhadir di lapangan.


d.            Majas Retoris
Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabannya itu sudah diketahui oleh penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah yang diuraikannya, untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.Contoh:Siapa yang tidah ingin hidup bahagia?
e.             Majas Aliterasi
Majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama.Contoh:Dara damba daku, datang dari danau.
f.              Majas Antanaklasis
Majas yang mengandung ulangan kata sama, dengan makna yang berbeda.Contoh:Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain. Jika tidak, kita telah menggantung diri.
g.             Majas Repetisi
Majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam kalimat yang berbeda. Contoh: Terlalu banyak penderitaan menimpa dirinya. Terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Terlalu banyak.
h.             Majas Tautologi
Majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam sebuah kalimat.Contoh: Selamat datang pahlawanku,  selamat datang bunga bangsaku.
i.               Majas Paralelisme
Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.
Contoh:
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu mampus
j.               Majas Kiasmus
Majas yang berisi perulangan dan sekaligus menganduk inverse.Contoh: Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.
BAB III
PENUTUP
3.1.       KESIMPULAN
1.         Bahasa memiliki peran penting dalam proses pembangunan karakter masyarakat dalam bangsa ini.
2.    Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran, dan bagaimana menghubungkan serta memisahkan lambang-lambang.
3.     Secara teknis, ejaan adalah aturan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penulisan tanda baca.
4.        Ejaan yang berlaku sekarang ini adalah ejaan yang telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
3.2.       SARAN
Saran dari kami untuk pembaca adalah suatu keharusan bagi kita semua agar mampu memahami ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) karena Bahasa Indonesia adalah bahasa Negara dan bahasa Nasional yang berfungsi sebagai sarana komunikasi ilmiah.




DAFTAR PUSTAKA
http://abasawatawalla01.blogspot.com/
https://www.academia.edu/9607279/Makalah_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan