MAKALAH EYD
BAHASA INDONESIA

DISUSUN OLEH : AKBAR (20113542) 3KB01
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR
BELAKANG
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) pada dasarnya merupakan ejaan bahasa Indonesia hasil dari penyempurnaan terakhir atas ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia. Sebelum EYD diberlakukan di Indonesia pernah berlaku ejaan Ch. A. Van Ophuysen, ejaan Republik (ejaan Soewandi) dan ejaan Malindo.
Adapun yang disempurnakan itu bukan bahasa Indonesianya, melainkan ejannya yakni tata cara penulisan yang baku.
Selama ini belum semua orang mematuhi kaidah yang tercantum dalam EYD, baik karena belum tahu, enggan mematuhi atau karena ada pedoman yang mereka pegang selama ini yang mereka anggap pedoman itu sudah tepat. Tindakan seperti ini jelas dapat mengacaukan perkembangan bahasa Indonesia. Padahal dengan diberlakukannya EYD, seharusnya setiap warga negara Indonesia, termasuk warga pengadilan sebagai pemakai bahasa Indonesia wajib mengikuti dan mematuhi kaidah-kaidah yang tercantum di dalamnya.
Ejaan
yang Disempurnakan (EYD) adalah submateri dalam ketatabahasaan Indonesia, yang
memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis
sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan dipahami secara
komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut
dapat digunakan dalam keseharian masyarakat, sehingga proses penggunaan tata
bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.
1.2. RUMUSAN
MASALAH
Atas dasar penentuan
latar belakang tersebut, maka kami dapat mengambil perumusan masalah sebagai
berikut:
1.
Apa itu pengertian
ejaan?
2.
Apa itu pengetian Ejaan
yang Disempurnakan?
3.
Bagaimana pemakaian huruf
menurut Ejaan yang Disempurnakan?
4.
Bagaimana penulisan
kata menurut Ejaan yang Disempurnakan?
5.
Bagaimana pemakaian angka
dan bilangan menurut Ejaan yang Disempurnakan?
6.
Bagaimana penulisan
unsur serapan menurut Ejaan yang Disempurnakan?
7.
Bagaimana pemakaian
tanda baca menurut Ejaan yang Disempurnakan?
8.
Bagaimana menulis
kalimat yang baik dan benar?
1.3. MAKSUD
DAN TUJUAN
Maksud
dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: pengertian
ejaan, pengertian Ejaan yang Disempurnakan, cara pemakaian huruf, cara
penulisan kata, cara pemakaian angka, cara penulisan unsur serapan, dan cara
pemakaian tanda baca yang sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan, serta cara
menulis kalimat yang baik dan benar.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN
EJAAN DAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
Ejaan
adalah keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai
keseragaman.Ejaan yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari
penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.Ejaan yang Disempurnakan(EYD) adalah
tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yangmengatur:
1.
Pemakaian Huruf
2.
Pemakaian Huruf Kapital
3.
Pemakaian Huruf Miring
4.
Penulisan Kata Dasar
5.
Penulisan Kata Turunan
6.
Penulisan Bentuk Ulang
7.
Penulisan Gabungan Kata
8.
Penulisan Kata Ganti
9.
Penulisan Kata Depan
10.
Penulisan Kata Si dan
Sang
11.
Penulisan Partikel
12.
Penulisan Singkatan
13.
Penulisan Akronim
14.
Angka dan Lambang Bilangan
15.
Penulisan Unsur Serapan
16.
Pemakaian Tanda Titik
17.
Pemakaian Tanda Koma
18.
Pemakaian Tanda Titik Koma
19.
Gaya Bahasa
2.2. PEMAKAIAN HURUF
1.
Huruf Abjad
A,
B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, dan Z.
2.
Huruf Vokal
Huruf a, e, i, o, dan u.
3.
Huruf Konsonan
Huruf
b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y dan z.
4.
Huruf Diftong
Huruf ai, au, oi, dan ei. Huruf au, ua, dan deret
vokal lainnya tidak termasuk.
5.
Gabungan Huruf Konsonan
Huruf
kh, ng, ny, dan sy.
6.
Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan dengan cara:
a.
Jika di tengah kata ada
vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf vokal itu.
Contoh: aula menjadi
au-la bukan a-u-l-a.
b.
Jika di tengah kata ada
konsonan termasuk gabungan huruf konsonan, pemenggalan itu dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Contoh: bapak
menjadi ba-pak.
c.
Jika di tengah kata ada
dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua
huruf itu.
Contoh: mandi menjadi
man-di.
d.
Jika di tengah kata ada
tiga buah huruf konsonan, pemenggalan itu dilakukan diantara huruf konsonan
yang pertama dan kedua.
Contoh: ultra
menjadi ul-tra.
2.3. PEMAKAIAN HURUF KAPITAL
Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung,
ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama gelar kehormatan, unsur nama
jabatan, nama orang, nama bangsa, suku, tahun, bulan, hari, nama geografi, dll.
1.
Ungkapan yang
Berhubungan dengan Nama Tuhan
Contoh:
Tuhan Yang Maha Esa, puji syukur kepada-Nya
2.
Gelar Kehormatan
Contoh:
Nabi Muhammad SAW., Nabi Isa as.
3.
Huruf Pertama Petikan
Langsung
Contoh:
4.
Jabatan dan Pangkat Diikuti
Nama Orang, Instansi, atau Jabatan
Contoh: Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaluddin Rakhmat, Sekretaris
Jendral, Departemen Pendidikan Nasional.
Jabatan
tidak diikuti nama orang tidak memakai huruf kapital. Contoh: Menurut bupati,
anggaran untuk pendidikan naik 25% dari tahun sebelumnya.
5.
Nama Orang
Contoh: Annisa
Intan Shabrina, Aslam Kamal Afdhal, Habiburrahman Haramain, Muhammad Fariz.
6.
Huruf Pertama Nama Bangsa, Suku
Bangsa, dan Bahasa
Contoh: bangsa
Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh:
ke-Sunda-Sundaan,ke-Inggris-Inggrisan,ke-Batak-Batakan, meng-Indonesiakan.
Seharusnya: kesunda-sundaan, keinggris- inggrisan, kebatak-batakan,
mengindonesiakan.
7.
Huruf Pertama Nama Hari, Bulan, dan
Tahun
Contoh: hari
Senin, bulan Januari, tahun Hijriah.
8.
Huruf Pertama Nama Geografi sebagai
Nama Jenis
Contoh: Selat Sunda,
Teluk Alaska, Kali Angke, dll.
Huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi
unsur nama diri. Contoh: berlayar ke teluk, mandi di kali,
menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara,
kacang bogor, salak bali.
9.
Penulisan Kata Depan dan Kata
Sambung
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan
judul karangan kecuali kata seperti di,
ke, dari, dan, yang, dan untuk yang
tidak terletak pada posisi awal. Biasanya dipakai pada penulisan judul cerpen,
novel.
Contoh:Harimau TuadanAyam Centil,Hari-Hari
PenantiandalamGua Neraka,Kado untuk Setan,
Taksi yang Menghilang.
10.
Setiap Unsur Bentuk Ulang Sempurna
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada
nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa,
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial,
Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plastik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Garis-Garis Besar
Haluan Negara.
2.4. PEMAKAIAN
HURUF MIRING
Huruf
Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar,
yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing, dan untuk
menegaskan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
1.
Huruf miring dalam
cetakan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh:
Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle,
Surat Kabar Bandung
Pos, dsb.
2.
Huruf miring dalam
cetakan dipakai untuk penulisan bahasa asing. Contoh: boat modeling,
aeromodeling, motorsport, dsb.
3.
Huruf miring dalam
cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,
atau kelompok kata dalam. Contoh:
4.
Huruf miring dan
cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing kecuali
yang telah disesuaikan ejaannya. Contoh: royal-purple amethyst, crysacola,
turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.
2.5. PENULISAN
KATA DASAR
Kata dasar
ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: kantor pos sangat ramai, buku itu sudah
saya baca, adik naik sepeda baru. Ketiga kalimat ini dibangun dengan gabungan
kata dasar.
2.6. PENULISAN
KATA TURUNAN
1.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran)
ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh: berbagai, ketetapan, sentuhan, terhapus.
2.
Jika bentuk dasar berupa gabungan
kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung
mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh: diberi
tahu, beritahukan, bertanda
tangan, tanda tangani, berlipat
ganda, lipat gandakan.
3.
Jika bentuk dasar yang berupa
gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu
ditulis serangkai.
Contoh: memberitahukan, ditandatangani, melipatgandakan.
2.7. PENULISAN
BENTUK ULANG
Bentuk kata
ulang ditulis hanya dengan tanda hubung (-).Contoh: anak-anak,
buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, dsb.
2.8. PENULISAN
GABUNGAN KATA
1.
Gabungan kata yang lazim disebutkan
kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Contoh: duta
besar, kerja sama, kereta api cepat luar biasa, meja tulis, orang tua, rumah
sakit, terima kasih, mata kuliah.
2.
Gabungan kata, termasuk istilah
khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis
dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Contoh: alat
pandang-dengar (audio-visual), anak-istri saya (keluarga), buku
sejarah-baru (buku sejarahnya yang baru), ibu-bapak (orang tua), orang-tua muda
(ayah ibu muda) kaki-tangan penguasa (alat penguasa).
3.
Gabungan kata berikut ditulis
serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi
sebagai dua kata.
Contoh: acapkali,
apabila, bagaimana, barangkali, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada,
darmabakti, halal-bihalal, kacamata, kilometer, manakala, matahari, olahraga,
radioaktif, saputangan.
4.
Jika salah satu unsur gabungan kata
hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh: adibusana, antarkota, biokimia, caturtunggal, dasawarsa,
inkonvensional, kosponsor,mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana,
nonkolesterol, neokolonialisme, paripurna,prasangka, purna-wirawan, swadaya,
telepon, transmigrasi.
5.
Jika suatu kata diikuti oleh kata
yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur kata ituditulisakan tanda
hubung (-).
Contoh: non-Asia, neo-Nazi.
2.9. PENULISAN
KATA GANTI
Kata
ganti ku, kau, mu, dan nyasebagai bentuk singkat kata aku engkau kamu dia, ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.Contoh: kubawa (aku
bawa), kaubawa (engkau bawa), bukuku (buku aku), bukumu (buku kamu),
bukunya (buku dia).
2.10. PENULISAN
KATA DEPAN
Kata depan di, ke, dan dari ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap
sebagai satu kata seperti kepada dan daripda.Contoh: Tinggalah
bersama saya di sini; Di mana orang tuamu?;
Saya sudah makan di rumah teman; Ibuku sedang ke luar
kota; Ia pantas tampil ke depan; Duduklah dulu, saya mau ke dalam
sebentar.
2.11. PENULISAN
KATA SI DAN SANG
Kata si dan
sang, Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.Contoh:
sang pujaan hati, kepunyaan si dia.
2.12.
PENULISAN PARTIKEL
1.
Partikel -lah, -kah,
dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya. Contoh: bacalah,
tidurlah, apakah, siapakah,
apatah.
2.
Partikel pun ditulisterpisah dari kata yang
mendahuluinya. Contoh: siapa pun.
3.
Pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap
ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Contoh:
per semester.
Singkatan
ialah bentuk istilah yang tulisannya diperpendek terdiri dari huruf awalnya
saja, menanggalkan sebagian unsurnya atau lengkap menurut lisannya yang terdiri
atas satu huruf atau lebih. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri
atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan
tanda titik.
1.
Singkatan nama
orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh: Muh. Yamin; M.B.A. (master or
business administration); M.Sc. (master of
science); S.E. (sarjana ekonomi); Bpk. (bapak);
Sdr. (saudara).
2.
Singkatan nama
resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama
dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital
dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
DPR – Dewan Perwakilan Rakyat; PT – Perseroan Terbatas; KTP – Kartu Tanda
Penduduk.
3.
Singkatan umum
yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Singkatan
yang terdiri dari dua huruf diikuti tanda titik pada setiap hurufnya.
Contoh:
dll. – dan lain-lain; dsb. – dan sebagainya; sda. – sama dengan di atas; Yth. –
Yang terhormat; a.n. atas nama (bukan a/n); d.a. dengan alamat (bukan d/a);
u.b. untuk beliau (bukan u/b); u.p. untuk perhatian (bukan u/p).
4.
Lambang kimia,
singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda
titik.
Contoh:
Cu (kuprum/timah); TNT (trinitroluen); cm (sentimeter); Rp (rupiah).
2.14.
PENULISAN
AKRONIM
Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan
suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.
1.
Akronim nama
diri yang berupa gabungan huruf awal sari deret kata ditulis seluruhnya dengan
huruf kapital.
Contoh:
ABRI – Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; LAN – Lembaga Administrasi
Negara; IKIP – Institut Keguruan Ilmu Pendidikan.
2.
Akronim nama
diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari
deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Contoh:
Akabri – Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; Bappenas – Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional.
3.
Akronim yang bukan
nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:
pemilu – pemilihan umum; rapim – rapat pimpinan.
Jika
dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:Jumlah
suku kata akronim jangan melebihi suku kata yang lazim pada kata Indonesia.Akronim
dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang
sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
2.15.
ANGKA DAN LAMBANG
BILANGAN
1.
Angka dipakai untuk menyatakan
lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau
angka Romawi.
Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Romawi: I,
II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000).
2.
Angka digunakan untuk menyatakan: (i)
ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan
(iv) kuantitas.
Contoh: 0,5
sentimeter; 5 kilogram; 4 meter persegi; 10 liter; 1 jam 20 menit
pukul 15.00; tahun 1928; 17 Agustus 1945; Rp5.000,00; US$3,50; $5,10; ¥100; 2.000 rupiah; 50 dolar Amerika; 10 paun Inggris; 100 yen; 10 persen; 27 orang
pukul 15.00; tahun 1928; 17 Agustus 1945; Rp5.000,00; US$3,50; $5,10; ¥100; 2.000 rupiah; 50 dolar Amerika; 10 paun Inggris; 100 yen; 10 persen; 27 orang
3.
Angka lazim dipakai untuk
melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Contoh:
Jalan Tanah Abang I No. 15; Hotel Indonesia, Kamar 169.
4.
Angka digunakan juga untuk menomori
bagian karangan dan ayat kitab suci.
Contoh: Bab X, Pasal 5, halaman 252; Surah Yasin: 9.
Contoh: Bab X, Pasal 5, halaman 252; Surah Yasin: 9.
5.
Penulisan lambang bilangan yang
dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a.
Bilangan utuh
Contoh: dua belas (12); dua puluh
dua (22); dua ratus dua puluh dua (222); dua ribu dua ratus dua puluh dua
(2222)
b.
Bilangan pecahan
Contoh:
setengah (1/2); tiga perempat (3/4); seperenam belas (1/16); tiga dua pertiga
(3 2/3); seperseratus (1/100); satu persen (1%).
6.
Penulisan lambang bilangan yang
mendapat akhiran -an mengikuti.
Contoh:
tahun ’50-an (tahun lima puluhan); uang 5000-an (uang lima ribuan); lima uang
1000-an (lima uang seribuan).
7.
Lambang bilangan yang dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa
lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam perincian dan
pemaparan.
Contoh: Amir
menonton drama itu sampai tiga kali; memesan tiga ratus ekor ayam; di antara 72
anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang
memberikan suara blangko; kendaraan yang ditempuh untuk pengangkutan umum
terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
8.
Lambang bilangan pada awal kalimat
ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang
tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal
kalimat.
Contoh: Lima
belas orang tewas dalam kecelakaan itu. Pak Darmo mengundang 250 orang
tamu.Bukan: 15 orang tewas dalam kecelakaan itu. Dua ratus lima puluh orang
tamu diundang Pak Darmo.
9.
Angka yang menunjukkan bilangan utuh
yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Contoh:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
10.
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka
dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan
kuitansi.
Contoh: Kantor kami mempunyai dua
puluh orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.Bukan: Kantor
kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai. Di lemari itu tersimpan 805
(delapan ratus lima) buku dan majalah.
11.
Jika bilangan dilambangkan dengan
angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Contoh: Saya lampirkan tanda terima
uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima
perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
2.16.
PENULISAN UNSUR SERAPAN
Kata
serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang di Indonesiakan. Proses
penyerapannya terjadi karena proses adaptasi dan asimilasi.
1.
Proses adaptasi bila
sebuah kata secara utuh diserap tanpa adanya perubahan dan pelafalan.
Contoh:
coffe break, money politics, money changer, super power, reshuffle.
2.
Proses asimilasi ialah
bila sebuah kata asing diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan perubahan
sesuai pengucapan dan bentuk penulisan Indonesianya.
Contoh :
a.
contingent →
kontingen dilafalkan kontingen
b.
directur →
direktur dilafalkan direktur
c.
effective →
efektif dilafalkan efektif
d.
trotoir → trotoar dilafalkan
trotoar
e.
survey → survai dilafalkan surfey
f.
carier → karier dilafalkan karir
g.
percentage →
persentase dilafalkan persentase bukan prosentase
h.
complex →
kompleks dilafalkan kompleks
Pelafalan yang benar ialah pelafalan
yang mengikuti kata serapan bahasa
Indonesia bukan bentuk asingnya. Di samping itu, unsur serapan bahasa
Indonesia juga dipengaruhi adanya imbuhan asing, antara lain: isasi, is, or, al, wi, man.
Indonesia bukan bentuk asingnya. Di samping itu, unsur serapan bahasa
Indonesia juga dipengaruhi adanya imbuhan asing, antara lain: isasi, is, or, al, wi, man.
2.17.
PEMAKAIAN TANDA TITIK
(.)
1.
Tanda titik dipakai pada akhir
kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh:
Ayahku tinggal di Aceh. Anak kecil itu menangis. Mereka sedang minum kopi. Adik
bungsunya bekerja di Samarinda.
2.
Tanda titik dipakai di belakang
angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab.
Contoh:
III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jendral PMD
B. Direktorat Jendral Agraria
1. Subdit......
2. Subdit......
3.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan
angka, jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu dan jangka waktu.
Contoh:
pukul 12.10.20 (pukul 12 lewat 10 menit 20 detik)
4.
Tanda titik tidak dipakai untuk
memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh: Ia
lahir pada tahun 1956 di Bandung. Lihat halaman 2345 dan seterusnya. Nomor
gironya 5645678.
5.
Tanda titik dipakai di antara nama
penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru,
dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh:
Lawrence, Marry S, Writting as a Thingking Process. Ann Arbor:
University of Michigan Press, 1974.
6.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan
bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh:
Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang. Koleksi buku di
perpustakaanku sebanyak 2.799.
7.
Tanda titik tidak dipakai pada
akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel.
Contoh:
Catur Untuk Semua Umur (tanpa titk). Gambar 1: Bentuk Surat Resmi
Indonesia Baru (tanpa titik).
8.
Tanda titik tidak dipakai
di belakang (1) alamat pengirim atau tanggal surat atau (2) nama dan alamat
penerima surat.
Contoh:
Jakarta, 11 Januari 2005 (tanpa
titik)
Yth. Bapak. Tarmizi Hakim (tanpa
titik)
Jalan Arif Rahman Hakim No. 26
(tanpa titik)
Palembang 12241 (tanpa titik)
Sumatera Selatan (tanpa titik)
Kantor Pengadilan Negeri (tanpa
titik)
Jalan Teratai II/ 61 (tanpa titik)
Semarang
17350 (tanpa titik)
2.18.
PEMAKAIAN TANDA KOMA
(,)
1.
Tanda koma dipakai
di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Contoh: Reny
membeli permen, roti, dan air mineral. Surat biasa, surat kilat, ataupun surat
khusus, memerlukan prangko.
2.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan
kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh
kata seperti tetapi atau melainkan.
Contoh: Saya
ingin datang, tetapi hari hujan.
3.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan
anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk
kalimatnya.
Contoh:
Kalau hujan tidak reda, saya tidak akan pergi.
4.
Tanda koma tidak dipakai untuk
memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak itu mengiringi induk
kalimatnya.
Contoh: Saya
tidak akan pergi kalau hujan tidak reda.
5.
Tanda koma harus dipakai di belakang
kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat,
seperti oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh: Meskipun begitu, kita harus tetap jaga-jaga.
6.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan
kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain
yang terdapat di dalam kalimat.
Contoh: O,
begitu? Wah, bagus, ya? Aduh, sakitnya bukan main.
7.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan
petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata
ibu, ”Saya berbahagia sekali”. ”Saya berbahagia sekali,” kata ibu.
8.
Tanda koma dipakai di antara (i)
nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv)
nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
Surat ini agar dikirim kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,
Jalan Raya Salemba 6, Jakarta Pusat.
9.
Tanda koma dipakai di antara
bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh:
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diskusi
Insan Mulia, 2001), hlm. 27.
10.
Tanda koma dipakai di antara orang
dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama
diri, keluarga, atau marga.
Contoh: A.
Yasser Samad, S.S. Zukri Karyadi, M.A.
11.
Tanda koma dipakai untuk mengapit
keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: Guru
saya, Pak Malik, pandai sekali. Di daerah Aceh, misalnya, masih banyak orang
laki-laki makan sirih. Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan,
mengikuti praktik komputer.
12.
Tanda koma dipakai untuk menghindari
salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam
pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang
bersunguh-sungguh. Atas pertolongan Dewi, Kartika mengucapkan terima kasih.
13.
Tanda koma tidak
dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya
dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda
seru.
Contoh:
”Di mana pameran itu diadakan?” tanya Sinta. ”Baca dengan teliti!” ujar Bu
Guru.
2.19.
PEMAKAIAN TANDA TITIK KOMA (;)
1.
Tanda titik koma untuk memisahkan
bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Hari
makin siang; dagangannya belum juga terjual.
2.
Tanda titik koma dipakai sebagai
pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat
majemuk.
Contoh: Ayah
mencuci mobil; ibu sibuk mengetik makalah; adik menghapal nama-nama menteri;
saya sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.
3.
Tanda titik koma dipakai untuk
memisahkan unsur-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan
dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan.
Contoh:
Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab para orang
tua, guru, polisi, atau pamong praja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini
terdiri atas anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.
2.20.
GAYA BAHASA.
Gaya
bahasa atau majas atau kiasan adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk
meningkatkan kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu
benda dengan benda lain atau hal lain yang lebih umum.Majas dapat
digolongkan sebagai berikut: Majas perbandingan,
pertentangan, pertautan; dan perulangan.
1.
Majas Perbandingan
Majas perbandingan
terdiri dari 4 jenis, yaitu:
a.
Majas Perumpaan
Perumpamaan
adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja
dianggap sama.Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak,
bagai, ibarat, penaka, sepantun, laksana, umpama.Contoh: Bak mencari kutu dalam
ijuk (Melakukan sesuatu yang mustahil); Bagai kambing dihalau ke air (Hal orang
yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu); Semanis madu; Sedalam
laut; Secantik bidadari; Sesegar udara pagi.
b.
Majas Metafora
Metafora
adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua
hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang
berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang
menggantinya.Contoh: Kapan Anda bertemu dengan lintah darat itu?;
Siti Mutmainah adalah kembang
desa di
sini; Kelaparan masih tetap menghantui rakyat Etiopia;
Nina tangkai hati ibu.
c.
Majas Personifikasi
Personifikasi
adalah majas perbandingan
yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup. Contoh: Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh; Matahari
mulai merangkak ke atas; Kabut
tebal menyelimuti desa kami; Banjir besar
telah menelan seluruh harta penduduk.
d.
Majas Alegori
Alegori
pada umumnya menganding sifat-sifat moral manusia.Contoh: Mendayung bahtera
rumah tangga (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga).
2.
Majas Pertentangan
Majas pertentangan
terdiri dari 7 jenis, yaitu:
a.
Majas Hiperbola
Hiperbola
adalah majas yang
menyatakan sesuatu dengan berlebihan.Contoh: Keringatnya menganak sungai; Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b.
Majas Litotes
Litotes
adalah majas yang
menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan
memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes
disebut juga hiperbola negatif.Contoh: Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa.
Sekadar air untuk membasahi tenggorokan saja yang ada; Tentu saja karangan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan
saran akan saya terima dengan senang hati.
c.
Majas Ironi
Ironi
adalah majas yang
menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir.
Ironi disebut juga majas sindiran.Contoh:
Bagus benar ucapanmu
itu, sehingga menyakitkan hati; Kau memang
pandai, mengerjakan soal itu tak satupun
ada yang betul.
d.
Majas Antonomasia
Antonomasia
adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang
dimilikinya.Contoh: Sssssttt, lihat! Si
cerewet datang.
Kalian tidak perlu bertanya; Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang
menghadapinya; Kemarin saya lihat si Kacamata
hitam keluar
bersama-sama dengan si Kribo.
e.
Majas Oksimoron
Oksimoron
adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang
mengandung hal-hal yang bertentangan.Contoh:Siaran radio dapat dipakai untuk
sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga
sebagai alat untuk memecah
belah suatu
kelompok masyarakat atau bangsa.
f.
Majas Paradoks
Paradoks
adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan,
tetapi mengandung kebenaran.Contoh:Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya
besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak
tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
g.
Majas Kontradiksio
Kontradiksio
adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang sudah
dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian.Contoh: Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri yang
bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
3.
Majas Pertautan
Majas pertautan
terdiri dari 4 jenis, yaitu:
1.
Majas Metonimia
Metonimia
adalah majas yang
memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal,
sesuai penggantinya.Contoh: Ayah suka mengisap gudang garam (Maksudnya rokok).
2.
Majas Sinekdok (pars
pro toto dan totem pro parte)
Sinekdok
adalah majas yang
menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
-
Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk
maksud keseluruhan.
Contoh:
Telah kelihatan
berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
Sudah lama tak nampak batang hidungmu.
Ia harus bekerja keras
karena banyak mulut yang harus disuapi.
Untuk biaya tiap kepala dikenakan
iuran sebesar Rp 1.500,00
Contoh:
Dalam tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara
satu.
Musim
lalu, Indonesia dapat meraih medali
emas.
3.
Majas Alusio
Alusio
adalah majas yang
menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan
peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya
sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan. Contoh: Menggantang
asap saja
kerjamu sejak tadi (Membual/beromong-omong); Ah, kau ni memang tua-tua keladi (Maksudnya makin tua
makin menjadi).
4.
Majas Eufemisme
Eufemisme
adalah majaskiasan halus
sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme
digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau
menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.Contoh: Orang itu memang bertukar akal (Pengganti gila); Kalau
dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek (Pengganti harimau);
Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM (Pengganti
menaikkan).
4.
Majas Perulangan/Penegasan
Majas perulangan/penegasan
terdiri dari 10 jenis, yaitu:
a.
Majas Pleonasme
Majas
yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan
arti suatu kata.Contoh:Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan
barang-barangnya yang jatuh.
b.
Majas Klimaks
Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama
makin menghebat.Contoh:Mulai
dari sepeda, motor, sampai mobil bejejer di halaman.
c.
Majas Antiklimaks
Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang
makin lama makin menurun (melemah).Contoh: Bapak Kepala Sekolah, Para
guru, dan murid-murid, sudahhadir
di lapangan.
d.
Majas Retoris
Majas yang berupa kalimat tanya yang jawabannya itu
sudah diketahui oleh penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah
yang diuraikannya, untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran.Contoh:Siapa yang tidah ingin hidup bahagia?
e.
Majas Aliterasi
Majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya
sama.Contoh:Dara damba daku, datang dari danau.
f.
Majas Antanaklasis
Majas yang mengandung ulangan kata sama, dengan makna
yang berbeda.Contoh:Kita harus saling menggantungkan diri satu
sama lain. Jika tidak, kita telah menggantung diri.
g.
Majas Repetisi
Majas perulangan kata-kata sebagai penegasan
dalam kalimat yang berbeda. Contoh: Terlalu banyak penderitaan
menimpa dirinya. Terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Terlalu
banyak.
h.
Majas Tautologi
Majas perulangan kata-kata sebagai
penegasan dalam sebuah kalimat.Contoh: Selamat datang pahlawanku,
selamat datang bunga bangsaku.
i.
Majas Paralelisme
Majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya
disusun dalam baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi.
Contoh:
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu mampus
j.
Majas Kiasmus
Majas yang berisi perulangan dan sekaligus menganduk
inverse.Contoh: Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan
yang miskin merasa dirinya kaya.
BAB III
PENUTUP
3.1.
KESIMPULAN
1. Bahasa memiliki peran
penting dalam proses pembangunan karakter masyarakat dalam bangsa ini.
2. Ejaan adalah
keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran, dan bagaimana
menghubungkan serta memisahkan lambang-lambang.
3. Secara teknis, ejaan
adalah aturan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan
penulisan tanda baca.
4. Ejaan
yang berlaku sekarang ini adalah ejaan yang telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan
yang Disempurnakan (EYD) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
3.2.
SARAN
Saran dari kami untuk pembaca adalah suatu
keharusan bagi kita semua agar mampu memahami ejaan bahasa Indonesia yang
disempurnakan (EYD) karena Bahasa Indonesia adalah bahasa Negara dan bahasa
Nasional yang berfungsi sebagai sarana komunikasi ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/9607279/Makalah_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan